Enhancing Quality Education Through Quality Evaluation

User login

Pesan Ketua

HEPI merupakan sebuah organisasi profesi yang bergerak di bidang pen­di­dik­an yang memiliki azas profesionalisme dan keilmuan dalam bidang pengukuran dan evaluasi pendidikan. Organisasi ini bersifat independen yang anggo­tanya terdiri dari him­pun­an para ahli, praktisi, pengamat, dan peminat evaluasi pendidikan.

Selengkapnya

    Asmawi Zainul Terharu Menerima Sumadi Suryabrata Lifetime Achievement Award

    “Saya sangat terharu ketika dipilih sebagai penerima Sumadi Suryabrata Lifetie Achievement Award dalam konferensi ilmiah HEPI tahun 2014”, ungkap Asmawi Zainul dalam sambutannya seusai menerima penghargaan tersebut di Bali (18/9/2014).

     

    Nama  Sumadi Suryabrata, tambah Asmawi yang juga anggota  Dewan Penasehat HEPI, merupakan nama yang sangat besar dan tidak sebanding jika dibandingkan dengan dirinya. Oleh sebab itu, penghargaan ini merupakan apresiasi yang luar.

     

    Mulai tahun ini, dalam setiap konferensi, HEPI akan memberikan penghargaan sepanjang hayat atau Sumadi Suryabrata Lifletime Achievement Award kepada individu yang dianggap telah memberikan kontribusi yang besar dalam pengembangan dan penerapan ilmu evaluasi, asesmen, serta pengukuran pendidikan dan psikologi di Indonesia.

     

    Siapakah Azmawi Zainul? Rektor Universitas Muhammadiyah Sukabumi ini  dilahirkan di sebuah dusun kecil, Perbo, di Bengkulu Utara, dari keluarga petani kecil. Ia hampir saja tidak pernah sekolah, karena usia awal sekolahnya Indonesia sedang diduduki Jepang, yang memaksa keluarganya pindah dari dusun Perbo ke daerah pegunungan Bukit Barisan untuk berladang dan berkebun, mengikuti orang tuanya. Dan memang Asmawi sendiri sudah tidak berniat untuk sekolah. Sehabis revolusi fisik 1948, barulah keluarganya kembali ke dusun, dan oleh kakak tertuanya Asmawi dipaksa untuk masuk sekolah. Karena Sekolah Rakyat yang ada di dusun itu hanya kelas kelas III, maka pada usia 12 tahun Asmawi masuk Sekola Rakyat kelas III.

     

    Pada tahun 1953, Asmawi menyelesaikan pendidikan SR dan lulus sebagai lulusan terbaik di sekolahnya. Ia hampir saja tidak melanjutkan sekolahnya, karena orang tuanya tidak dapat menyediakan biaya. Beruntung pada saat itu diketahui bahwa di Bengkulu ada KPKPKB, yang kemudian menjadi SGB, yang menyediakan ikatan dinas untuk menjadi guru SR. Ia diterima di SGB Bengkulu. SGB adalah sekolah guru SR 4 tahun. Tetapi pada kelas III ada ujian. Siswa yang lulus terbaik ujian kelas III, dapat langsung melanjutkan ke SGA. Inilah yang menyebabkan Asmawi melanjutkan sekolahnya ke SGA di Palembang yang juga dengan ikatan dinas. Pada tahun 1957 ia pindah ke SGA Tanjung Karang, Lampung. Ia lulus dari SGA Tanjung Karang Lampung dengan nilai tertinggi di sekolahnya dan berhak untuk secara langsung melanjutkan sekolah tanpa harus mengajar terlebih dahulu. Ia memilih melanjutkan ke FKIP UNPAD di Bandung. Semula dia bermaksud untuk masuk ke Jurusan Ilmu Pasti (Matematika). Tetapi tidak boleh karena ia berasal dari SGA. Ia mencoba untuk mendaftar ke Jurusan Ilmu Alam (Fisika), juga tidak bisa, demikian pula dengan Ilmu Hayat (Biologi). Ketiga mata pelajaran kegemarannya di SGA itu tidak dapat dimasukinya. Akhirnya ia putuskan untuk mendaftar ke Jurusan Sejarah, asal bisa melanjutkan kuliah. Dan di jurusan inilah ia diterima.Selama kuliah ini Asmawi tidak mengambil ikatan dinas atau beasiswa. Akibatnya, dia mengalami kesukaran pembiayaan yang amat berat. Tetapi karena ia aktif di organisasi mahasiswa, maka dapat melanjutkan kuliahnya sampai lulus Sarjana Muda Sejarah tahun 1963. Kemudian melanjutkan ke tingkat Sarjana di IKIP Bandung dalam Jurusan Pendidikan Sejarah lulus tahun 1967. Selama kuliah ia aktif di berbagai organisasi mahasiswa. Ia menjadi Ketua Presidium Dewan Mahasiswa IKIP Bandung. Menjadi wakil Ketua HMI Cabang Bandung, dan  Presidium KAMI Bandung.

                Padatahun 1964 ia diangkat menjadi pegawai negeri (tanpa melamar), sebagai Asisten. Selama menjadi asisten ini kegiatan keorganisasian terus diakukannya, karena itu ia terlibat dalam gerakan mahasiswa tahun 1964 – 1967, yang menyebabkan kuliah tingkat sarjana agak terbengkalai. Bahkan setelah lulus Sarjana ia juga masih aktif di berbagai organisasi politik dan kemasyarakatan.

                Tahun 1974 (bersamaan dengan peristiwa Malari) ia berangkat sekolah ke McQuarie University di Australia. Ia belajar tentang Educational Planning. Tapi karena beasiswa yang diperolehnya hanya satu tahun, maka ia tidak dapat menyelesaikan sampai Master. Setelah pulang dari Australia ia mulai memetik akibat dari aktivitasnya di berbagai organisasi itu. Ia tidak dibolehkan melanjutkan sekolah keluar negeri. Baru pada tahun 1984  ia mendapat kesempatan untuk belajar ke SUNY at Buffalo (biasa disebut sebagai UB) untuk mengambil program Master dalam bidang Social Studies Education. Selesai program Master pada tahun 1985, ia tidak mau pulang. Dia berusaha untuk melanjutkan pendidikan di Universitas yang sama dengan mengambil Program bidang Educational Psychology, dengan konsentrasi Tes dan Pengukuran Pendidikan. Dengan bimbingan Prof. Dr. Robert C Nichols, ia menyelesaikan Ed.D. pada tahun 1988. Karena Beasiswa untuk Program ini diperoleh dari Proyek Bank Dunia dari UT, maka setelah selesai ia harus bekerja di UT.

                Sebelum berangkat sekolah ke Amerika Serikat, ia pernah menduduki jabatan sebagai Sekretaris Jurusan Sejarah dan Pembantu Dekan I di FPIPS  IKIP Bandung. Setelah mulai bekerja di UT ia diangkat sebagai tenaga Konsultan di Pusat Pengujian UT. Kemudian dia dipilih dan diangkat sebagai Pembantu Rektor III dan Pembatu Rektor IV sampai tahun 2003. Pada tahun 2003 ia diminta kembali ke IKIP Bandung, yang pada waktu itu telah berubah nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Ia diangkat menjadi Direktur Sekolah Pascasarjana. Disamping itu menjadi Ketua Senat Akademik UPI sampai tahun 2007.

                Tangga 1 Januari 2008 ia pensiun dan menjadi Guru Besar Emiritus di UPI. Pada saat yang hampir bersamaan ia diangkat menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Sukabumi, sampai sekarang. Pada waktu bersamaan ia juga menjadi Konsultan Bank Dunia untuk Kementerian  Agama.